Bookmark atau penanda buku bukanlah benda baru dalam dunia literasi. Meski sering dianggap sepele, ternyata bookmark memiliki sejarah panjang yang menarik dan unik. Bahkan, asal usulnya jauh lebih tua dari penemuan mesin cetak.

Sejarah mencatat bahwa bookmark telah digunakan sejak abad ke-6 Masehi. Salah satu bookmark tertua yang pernah ditemukan berasal dari Mesir kuno. Benda tersebut terbuat dari bahan sederhana seperti kulit yang dipotong memanjang dan digunakan untuk menandai halaman terakhir yang dibaca dalam sebuah manuskrip.

Sebelum adanya teknologi percetakan seperti yang ditemukan oleh Johannes Gutenberg pada abad ke-15, naskah dan buku ditulis tangan di atas perkamen atau papirus. Mengingat proses penulisan dan pembacaan membutuhkan waktu lama, para pembaca saat itu membutuhkan penanda agar tidak kehilangan posisi terakhir mereka. Maka muncullah berbagai bentuk penanda, dari pita kulit, potongan kain, hingga bahkan tulang hewan.

Seiring perkembangan zaman, bookmark mengalami banyak inovasi bentuk dan bahan. Saat ini, kita mengenal berbagai jenis bookmark, mulai dari kertas bergambar, magnetik, logam, hingga bookmark digital yang digunakan di aplikasi e-book. Bahkan, tidak sedikit pembaca yang menggunakan benda tak lazim seperti tiket bekas, kartu nama, hingga uang recehan sebagai pengganti bookmark.

Fakta ini menunjukkan bahwa budaya membaca memiliki akar sejarah yang panjang, dan bookmark adalah bagian kecil yang merekam kebiasaan manusia dalam melestarikan ilmu pengetahuan dan cerita.

Nah, kalau kamu sendiri lebih suka pakai bookmark jenis apa?
Tulis di kolom komentar atau bagikan ceritamu bersama #PerpustakaanKita!